Salam, Samarinda 26 Desember 2006
“Malam semakin larut ya Cung” ! gumamku. “Iya mas dingin banget euy” celetuk Si Kuncung seraya memakai jaket buluknya yang sedikit kumal. “Mana Muni Cung” ?tanya ku. “Ah tadi ada Mas, mungkin lagi ke Juanda kali ya” ?jelas Kuncung. “Ah jangan-jangan Muni lagi keliling ya Cung ?” tanyaku penasaran. “Cung Menelusuri jejak para pendusta agama, pendusta Allah di sini rasanya nggak habis-habisnya. Mulai dari kelas teri, sampai kelas menteri. Mulai dari kelas ABG sampai kelas
Kakek-Nenek kempot peyot. Mulai dari kelas madat sampai kelas Ustadz. Mulai dari kelas priyai sampai kelas Kyai. Mulai dari tukang cukur sampai pastur. Mulai dari penjara sampai manusia merdeka. Bahkan dari pendeta sampai sampai kumpulan orang-orang kecewa. hehehehe” gumanku. semua serba instan, bahkan ada yang menawarkan dengan investasi sekian rupiah bisa mendekatkan diri sama Gusti Alloh, hati jadi tenang, termanage dll hebat ya bisa beli ma’rifat. “betul juga ya mas sama persis dengan goyang ngebor kemarin donk ” hehehe ujung-ujungnya nyari duit ” ujuar si kuncung, “sory ya cung bukan saya nyindir kamu” ada juga cung yang sok agamis, religius, suci eh ujungnya duit juga. kamu tahu cung syaitan itu bisa masuk lewat mana aja, lewat sinyal gelombang elktromanet juga bisa lho Kadang saya mikir, apa bedanya pornografi yang diumbar dengan jual beli Nama Allah untuk kepentingan hawa nafsunya?”
“Kalau begitu kita ikut acara tangis menangis di TV saja Cung. Siapa tahu seluruh negeri ini menangis semua, lalu syetan-syetan terusir dari muka bumi…”
“Yah, kalau nangisnya itu karena Allah. Tapi kalau nangisnya sekadar basa-basi pada publik, pada kamera TV, apa bedanya dengan sinetron dan tangisan perpisahan di Akademi Fantasi (AFI) itu? Lebih baik hati kita menangis pada Allah, dalam munajat kesunyian kita bersamaNya, Cung.” ya kita cuman bisa istighfar ya cung, jarang ada orang yg bener 100 % jangan2 kita juga sudah dihingapi syetan ya Cung …astaghfirullah……lho Mun kamu dari mana ? “tanyaku, “dari keliling-keliling mas, pusing aku mikirin dunia malam ini” ujar Muni. “Mun, mending kamu lanjutin dudukmu disitu terawang tuh tepian mahakam” terang Kuncung “hahahahaa…….
cakdayat@96
Posted in Sosial