Radio smart FM..!

•December 10, 2007 • 1 Comment

Salam,kiki2.jpg

Sore kala itu, di dalam avanza gress yang aku tumpagin bersama karibku, sebut Edi Gordo. tak sengaja pendengaranku terbesik nasihat santun dari seorang ‘pakar’ yang kebetulan sedang ‘tune in’ di radio Smart FM. Di dalam nasihatnya ada informasi yang sangat mencengangkan bagaimana cara mendidik anak kita dengan cara yang santun tapi sukses. entah benar apa salah, yang pasti rahasia tersebut sudah beliau buktikan kepada anak-anaknya dan keluarga tentunya, banyak orang sukses diluar tapi gagal dirumah tangga, banyak orang yang sukses menjalin kerjasama dengan customer tapi gagal bertali dengan anak, banyak orang promosi jabatan tapi tidak sedikit yang cenderung jauh dari istri. satu hal yang terpenting dalam paparan Beliau sesungguhnya cara mendidik anak adalah dengan kelembutan dan kasih sayang, salah jika dengan amarah lantas anak itu menjadi baik, hanya penyesalan yang kemudian muncul, itu hanya respon sebentar akan perasaan kita yang tertimbun lantas kitah tumpahkan kepada anak-anak kita bahkan istri ..(lanjut..)

cakday@t 

Buah kesabaran..!

•December 10, 2007 • Leave a Comment

Salam

Malam mulai larut, kulihat si Kuncung mulai gelisa, nampak dari raut wajahnya keletihan luar biasa maklum  habis  dari perjalanan lumayan jauh samarinda – muara wahau kutai timur. “Kok belum tidur cung ? ” tanyaku, dengan berat dia menjawab “katanya tadi suruh nunggu s/d jam 12 malam mas !” iya benar ada kerjaan yang harus kami selesaikan malam itu. sambil makan kacang goreng kami larut dalam perbicangan seputar musibah adam air dan kapal senopati nusantara, dan tak lama datang seorang tua paruh baya memanggil “tolong bukakan pintunya mas” !katanya, cepat- cepat aku tergopoh-gopoh membukakan pintu yang memang aku kunci dari awal, “eh pak maksum. masuk pak, ini kacang goreng pak…” tawarku, “belum selesai mas kerjaannya ?” tanya beliau. “belum pak kami masih nunggu instruksi dari atasan kami ” jawab sikuncung. Pak maksum adalah penjaga tower disitu, sudah hampir 30 tahun beliau tinggal 200m dari tower, rumahnya sangat sederhana, juga penampilannya yang ngga terlalu istimewa, siapa sangka dia sudah menyekolahkan anak-anaknya sampai dengan gelar sarjana, awal pembicaraannya tertuju pada kata ‘ikhtiar’ ‘sabar’ ‘tawakal’, dengan serius saya dan kuncung mendengar cerita demi cerita dari beliau….sungguh perjuangan yang luar biasa, nampaknya Alloh memelihara orang kampung terpencil, seperti Pak Maksum ini sebagai ‘asetNya’ yang jarang kami temui di kota besar seperti samarinda ini….ngga terasa sudah jam 4 pagi…(lanjut…)

cak@dayat

Dunia Malam !

•December 10, 2007 • 1 Comment

Salam, Samarinda 26 Desember 2006

“Malam semakin larut ya Cung” ! gumamku. “Iya mas dingin banget euy” celetuk Si Kuncung seraya memakai jaket buluknya yang sedikit kumal. “Mana Muni Cung” ?tanya ku. “Ah tadi ada Mas, mungkin lagi ke Juanda kali ya” ?jelas Kuncung. “Ah jangan-jangan Muni lagi keliling ya Cung ?” tanyaku penasaran. “Cung Menelusuri jejak para pendusta agama, pendusta Allah di sini rasanya nggak habis-habisnya. Mulai dari kelas teri, sampai kelas menteri. Mulai dari kelas ABG sampai kelas
Kakek-Nenek kempot peyot. Mulai dari kelas madat sampai kelas Ustadz. Mulai dari kelas priyai sampai kelas Kyai. Mulai dari tukang cukur sampai pastur. Mulai dari penjara sampai manusia merdeka. Bahkan dari pendeta sampai sampai kumpulan orang-orang kecewa. hehehehe” gumanku. semua serba instan, bahkan ada yang menawarkan dengan investasi sekian rupiah bisa mendekatkan diri sama Gusti Alloh, hati jadi tenang, termanage dll hebat ya bisa beli ma’rifat. “betul juga ya mas sama persis dengan goyang ngebor kemarin donk ” hehehe ujung-ujungnya nyari duit ” ujuar si kuncung, “sory ya cung bukan saya nyindir kamu” ada juga cung yang sok agamis, religius, suci eh ujungnya duit juga. kamu tahu cung syaitan itu bisa masuk lewat mana aja, lewat sinyal gelombang elktromanet juga bisa lho Kadang saya mikir, apa bedanya pornografi yang diumbar dengan jual beli Nama Allah untuk kepentingan hawa nafsunya?”
“Kalau begitu kita ikut acara tangis menangis di TV saja Cung. Siapa tahu seluruh negeri ini menangis semua, lalu syetan-syetan terusir dari muka bumi…”
“Yah, kalau nangisnya itu karena Allah. Tapi kalau nangisnya sekadar basa-basi pada publik, pada kamera TV, apa bedanya dengan sinetron dan tangisan perpisahan di Akademi Fantasi (AFI) itu? Lebih baik hati kita menangis pada Allah, dalam munajat kesunyian kita bersamaNya, Cung.” ya kita cuman bisa istighfar ya cung, jarang ada orang yg bener 100 % jangan2 kita juga sudah dihingapi syetan ya Cung …astaghfirullah……lho Mun kamu dari mana ? “tanyaku, “dari keliling-keliling mas, pusing aku mikirin dunia malam ini” ujar Muni. “Mun, mending kamu lanjutin dudukmu disitu terawang tuh tepian mahakam” terang Kuncung “hahahahaa…….

cakdayat@96